Tuesday, January 8, 2013

TERHUBUNG DENGAN LANGIT


Seharusnya dia beroleh istirehat di malam hari. Siang demi siang terasa panjang, melelahkan, dan menyesakkan dada. Ke sana kemari disusuri Makkah dari ujung lain ke ujung satu, berbisik dan berseru. Dia ajak orang satu demi satu, kabilah suku demi suku untuk mengimani risalah yang diamanahkan kepadanya.

Dia kadang terlihat di puncak Shafa, membacakan ayat-ayat yang dibalas caci maki dan hinaan menjijikkan dari pamannya sendiri. Dia kadang harus pergi meninggalkan satu kaum dengan dilempari batu dan kotoran sambil diteriaki gila, dukun, penyihir dan penyair hingusan.

Dia sangat lelah. Jiwa maupun raga. Dia sangat payah. Lahir maupun batin. Tenaganya terkuras. Luar maupun dalam. Seharusnya dia peroleh istirahat di malam hari, meski gulana tetap menghantuinya. Tetapi saat Khadijah membentangkan selimut untuknya dan dia mulai terlelap dalam hangat, sebuah panggilan langit justeru memaksanya terjaga.


“Hai orang yang berselimut. Bangunlah di malam hari kecuali sedikit. Separuhnya, atau kurangilah yang separuh itu sedikit. Atau tambahkan atasnya, dan bacalah Quran dengan tartil”
(73:1-4)

Untuk apa?


“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat”
(73:5)


Seberat apa?


“Kalau sekiranya Kami menurunkan al Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah berantakan disebabkan takut kepada Allah”
(59:21)


Itulah kalimat yang berat. Itu beban yang berat. Beban yang gunung-gunung tak sanggup menanggung. Beban yang dihindari oleh langit dan bumi. Dan Muhammad harus menerimanya. Dia harus menanggungnya. Maka hatinya  harus lebih kokoh dari gunung. Jiwanya harus lebih perkasa daripada bumi. Maka dadanya harus lebih lapang daripada lautan. Kerana itu dia harus bangun di waktu malam untuk menghubungkan diri dengan sumber kekuatan yang Maha Perkasa.

-Dalam Dekapan Ukhuwah
-Salim A Fillah


-------


Ah. Jiwa terobek sebaik membaca.

Masakan kita ini, bercita-cita untuk buat dakwah, untuk turut serta jejak Muhammad bin Abdullah itu, tapi kehidupan malam kita di mana? Terpanah. Hidupkah malam kita? Tak sedarkah kita bahawa tanggungjawab ini memerlukan sumber kekuatan dari langit?

Tidak hairanlah, tidak hairanlah

Dakwah aku sering ditolak, kata-kata aku tak langsung membekas, usai ujian badai datang melanda aku bingkas tumbang, tidak hairanlah, aku bukan ahli tahajjud. Keterhubungan dengan langit, tiada.

Sedang sang nabi itu, usahanya di siang hari sebegitu rupa, namun masih mampu berdiri di malam hari, bersujud dalam dalam di kala hitam malam, berbual mesra dengan Sang Pencipta, mengadu dan berkongsi duka. Kita? Di siang hari penuh gelak tawa, kerja sekelumit cuma, malam pula lesu tanpa amal. Yang datang semua alasan.

Seorang da’ie itu kerjanya mebimbing, memberi dan menghubungkan. Macam mana kita ingin membimbing para mad’u kalau diri sendiri masih terumbang ambing? Macam mana kita hendak memberi jika langsung tiada bekalan ruhi yang diterima? Bagaimana ingin menghubungkan manusia kembali kepada Yang Esa jika kita sendiri jauh teramat dariNya?

Ah.

Seriuskah aku?

Dan masih berselimut, ironi.

6 comments:

aku-bukan-robot. said...

*masih berselimut.

Allah! )'=

Dokter TukangMasak said...

Kadang, bila dakwah kita ditolak walaupun oleh segelintir orang, dah rasa lemah. Apa yg diharapkan sebenarnya? Dakwah itu senang, atau penyampaian kita mudah diterima org? Sedangkan baginda Rasulullah saw, kekasih Allah itu ditimpa b'macam2 ujian.. Allah.

*tembak diri sendiri dgn ibrah dr baginda* berharap utk beroleh sesuatu dr tembakan.

P/s: jumpa aku-bukan-robot lg. :)

Ramadhan al-Banna said...

T_T,

saya said...

Ironi.

:'(

Jzk for the entry.

Anonymous said...

:(

Anonymous said...

salam alaik. ana mohon share gambar atas tu d fb. jzkk