Sunday, April 21, 2013

MOMEN MOMEN INTIM



“Hai orang yang berselimut. Bangunlah di malam hari kecuali sedikit. Separuhnya, atau kurangilah yang separuh itu sedikit. Atau tambahkan atasnya, dan bacalah Quran dengan tartil”
(73:1-4)

Untuk apa?


“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat”
(73:5)


Seberat apa?


“Kalau sekiranya Kami menurunkan al Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah berantakan disebabkan takut kepada Allah”
(59:21)



Itulah kalimat yang berat. Itu beban yang berat. Beban yang gunung-gunung tak sanggup menanggung. Beban yang dihindari oleh langit dan bumi. Dan Muhammad harus menerimanya. Dia harus menanggungnya. Maka hatinya  harus lebih kokoh dari gunung. Jiwanya harus lebih perkasa daripada bumi. Maka dadanya harus lebih lapang daripada lautan. Kerana itu dia harus bangun di waktu malam untuk menghubungkan diri dengan sumber kekuatan yang Maha Perkasa.


-Dalam Dekapan Ukhuwah
-Salim A Fillah


-----------------------


Saya kira para penyeru kebenaran, kita-kita inilah yang paling banyak masalah. Di situ dan di sini. Kitalah yang paling lemah. Tenaga dilabur kejap di kota, kejap di desa. Kitalah yang paling butuh kekuatan, ruhi dan fisiknya. Yelah. Menyambung tugas kerasulan. Risalah al haq ini perlu dibawa kedepan.

Pastinya banyak dugaan, pancaroba. Kitalah yang banyak benar musuh. Meski yang terlihat mahupun yang terhijab. Berhadapan dengan gerak kerja al bathil yang penuh tersusun. Kitalah yang paling butuh bantuan.

Mana nak cari kekuatan untuk itu semua?

Usah dicari kekuatan dan sokongan daripada manusia. Kerana mereka seperti kita juga. Lemah. Tidak mampu memberi manfaat pada kita. Sebaliknya sumber kekuatan, satu-satunya sumber kekuatan adalah dari yang Maha Kuat. Al Aziz. Dari Allah Azza Wajala.

Atas sebab itu, penegak kebanaran telah memilih untuk menghidupkan malam-malam mereka. Di saat yang lain hanyut dibuai mimpi indah memetik bintang di kanvas langit, penyeru kebenaran bertarung dengan keinginan diri untuk mendapatkan bekalan kekuatan. Menjadikan malamnya penuh esak dan sedu. Menjadi rahib di malam hari tatkala berpenatan mengaum ganas di siangya.

Saya kira kita inilah, momen satu pertiga terakhir malamnya paling intim dengan Sang Pencipta. Banyak benar yang hendak diadukan. Banyak benar yang hendak dirintihkan. Banyak benar yang hendak dipohon pertolongan. Banyak justeru terlalu banyak untuk sekadar dititip di ruang ini. Kita sudah jauh mengerti.


Gayanya makin kuat kita bekerja
Makin dekat kita dengannya
Makin banyak cerita untuk dikongsi

Aneh bahkan terlalu aneh bagi mereka yang kencang memacu kuda masing-masing di medan amal dan jihad, tapi tidak ada masa untuk berintiman dengan Sang Pemberi Kekuatan. Aneh jika kalau kita ini katanya penegak kebenaran tapi jauh hubungannya dengan Sang Pencipta, yang mana dari Dia datangnya kebenaran.

Aneh terlalu.

Maka kita ini tidak mahu menjadi aneh. Maka kita telah mengambil keputusan. Kita telah bertegas untuk mengalokasi waktu di sepertiga akhir malam untuk momen momen intim denganNya. Kerana waktu itu, manis rasanya. Tenang bayunya. Lain benar ruhnya. Seolah hanya ada kita dan Dia.

Maka mari kita, malam ini juga

Hidupkan momen itu. Penuh keintiman.



Di sana, ada cinta dan tujuan
Yang membuatmu menatap jauh ke depan
Di kala malam begitu pekat
Dan mata sebaiknya dipejam saja
 
Cintamu masih lincah melesat
Jauh melampui ruang dan masa
Kelananya menjejakkan mimpi-mimpi

Lalu di sepertiga malam terakhir
Engkau terjaga, sadar dan memilih menyalakan lampu
Melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
 
Dengan cita yang besar, tinggi dan bening
Dengan ghairah untuk menterjemahkan cinta sebagai kerja
Dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
Dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati


------------------

Inilah, manisnya jalan para pejuang

3 comments:

Anonymous said...

Terimakaseh atas ingatan.

anis said...

Jazakallahu khair atas peringatan. Smg usaha dan karya diredhai dan dikira sbg amal oleh Allah. amin.

Inspector Saahab said...

Jazakumullahukhairan katheera :)